Bahasa/Language

Rabu, 19 Maret 2014

KUPU-KUPUKU AKU BUTUH KAMU - Radar Madura (Jawa Pos), edisi: 6 Oktober 2013



KUPU-KUPUKU AKU BUTUH KAMU
(Benny Can)

Matahari yang berarak dan pagi pun tersapa siang untuk menggantinya, begitu pula embun akan pergi karena setia pada pagi. Setia, begitulah seharusnya dalam menjalani cinta karena cinta saling membutuhkan. Seperti kupu-kupu yang akan merasa butuh pada bunga untuk menyentuhnya.
Cinta adalah ungkapan rasa permintaan hati hingga semua akan menjadi semu bila tanpa terjalani dengan setia. Seperti aku yang merasakan cinta dari kupu-kupuku yang selalu menyentuh bunga hatiku. Seperti embun tanpa syarat untuk membuat dedaunan cinta dan akulah yang haya butuh cinta dan tanpa syarat untuk setia. Semua itu terjalani karena kita berkeyakinan, ada bahagia yang menantinya.
Bahagia itu yang terasakan bila bersama, bersanding, dan menyentuhnya hingga semua bagaikan penonton dan hanya kita pemilik dunia ini. “Ranum, aku akan selalu menyebutmu keindahan bila inginku mengabdi pada nyata dan perpegang teguh pada sumpah untuk tak putus asa karena kamu telah mengajarkan aku merasakan cinta hingga bernafaspun sepertinya nafasmu yang kau titipkan. Ranum, adalahmu keindahan dari kebahagian cinta untukku tertakdir dan takkan berhenti sebelum tuhan mengatakan ini berakhir” rayuku.
“Dika, apapun yang terjadi denganku, adalahmu pelindungnya dan bila itu rapu adalahmu disampingku. Cinta ini mengakar dan tak mungkin aku merobohkannya sebelum kehendak Tuhan, karena sedih dan senang ingin terlalui bersamamu. Dika, akulah kupu-kupumu yang ingin selalu menyentuh bunga di hatimu karena manisnya bahagia yang selalu aku rasakan,” katanya sambil menyandarkan kepalahnya di bahuku.
          Debur ombak yang berkejaran terlihat menjadikan pelangkap bahagia yang terasakan di pantai berpasir putih ini. Duduk, begitulah kita merasakan menikmati alam ciptaan Tuhan seraya kita tercipta menjadi satu seperti pasir dan ombak. Aku merangkul Ranum karena angin tak ingin mendekap dingin, dan sesekali membelai rambut indahnya karena pasir yang terhempas tak ingin mengotorinya.
           “Dika, teryata benar apa yang dikatakan orang. Kamu meninggalkanku hanya untuk wanita ini” kata Putri yang tanpa terasa sudah berdiri di depan kita sambil menunjuk Ranum.
“Putri, mengapa kamu mengganguku, bukannya kamu sudah puas menyakiti dengan menduakan cintaku. Sekarang, lebih baik tinggalkan kita karena kamu dan aku sudah tidak ada ikantan” kataku.
“Aku akui salahku dan sekarang aku sadar. Dika sebenarnya aku masih mengharapkanmu,” katanya.
“Itu sudah berlalu dan menjadi masa lalu. Sekarang aku merasa bahagia dengan Ranum,” kataku sambil merangkul Ranum.
“Dika asal kamu tahu saja, cewekmu itu adalah seorang pelacur.”
Sepontan saja aku menjadi marah, aku berdiri dan ingin menamparnya tapi urung karena Ranum memegang tanganku. “Pergi dan cepat tinggalkan kita, sebelum aku berbuat kasar,” kataku sambil mengusirnya.
“Aku pergi, aku pergi. Semoga kamu bahagia dengan seorang pelacur” katanya dan setelah itu dia pergi. “Hei pelacur. Aku ucapkan selamat karena kamu telah berhasil mengguna-guna Dika, tapi aku yakin cintamu itu takkan awet dan Dika akan mencari aku,” tambahnya saat tak berapa jauh dia meninggalkan kita. 
Aku melihat Ranum tertunduk seolah menyembunyikan rasa sedih dan tangisnya. “Ranum, sudahlah jangan kau tetaskan air matamu,” rayuku sambil mengusap air matanya. “Lihatlah aku, tatap mataku. Semua ucapan adalah ucapku yang harus kamu percayai.”
“Benar apa yang dikatakan putri, takdirku adalah untuk dihina dan aku harus menjalani dengan tuduhan atas orang yang telah menganggap rendah diriku,” ucapnya.
“Takdir? Terkadang takdir adalah pilihan dan pilihan terakhir adalah takdir, tapi bukannya takdir bisa lebih memihak kepada kita jika kita berusaha merubahnya. Ranum, Tuhan itu maha pengampun dan akan mengampuni setiap ummat-Nya bila ia berusaha untuk lebih baik dan meninggalkan kesalahnnya. Aku akan tetap ada untukmu karena aku tak ingin orang menghinamu karena masalalumu, aku punya rasa kasihan dan untuk itu adalah cinta yang aku tunjukkan untuk melindungimu.”
“Dika, aku mengerti semua itu. Aku yakin cintamu sekarang hanyalah karena kasihan dan aku tidak mau dikasihani. Dika, cobalah berfikir apa jadinya bila aku menjadi masa depanmu. Aku tak pantas buat seorang cowok terpelajar sepertimu”
“Dengarkan aku, aku mencintaimu karena aku butuh. Aku butuh kamu untuk masa depanku karena mimpi-mimpiku selalu menyebut namamu. Ranum, aku tak ingin menyebut malam tanpamu mengatakannya dan aku tak ingin menyebut pagi tanpa kamu yang membangunkannya.”
“Aku tak mungkin menyebutkan malam untukmu. Aku sekarang sadar siapa diriku ini” katanya dan setelah itu dia hanya menundukkan kepla menyembunyikan tangisnya. “Dika, aku hanya seorang pelacur.”
 “Ranum, ikut aku,” aku menarik tangannya dan membawahya pada keramain orang yang menikmati keindahan pantai. “Hai semuanya, maaf sebelumnya. Aku hanya ingin kalian menjadi saksi” teriakku dan sesaat itu bayak orang yang beralih perhatian pada kita.
“Salahkah aku bila mencintai dengan ketulusan dan kesetian. Aku butuh cintamu dan tanpa syarat untuk memilikimu. Ranum, apakah kamu bersedia menjadi pendampingku dengan ikatan halal dan bersedia menjadi istriku?” kataku sambil berlutut dan memengangi tangannya dan sontan saja orang-orang berkata “Terima, terima, terima.”
Sejenak setelah itu keadaan menjadi diam. Ranum menarik tanganku dan memintaku untuk berdiri dan setelah itu dia memelukku. “Aku menerima, karena aku juga butuh kamu.” Tepuk tangan pun terdengar dan tetapi aku tanpa hirau terus saja memeluknya karena bahagia yang tak terkira.
“Kupu-kupuku aku butuh kamu,” kataku setelah melepaskan pelukan dan menatap wajahnya. “Kupu-kupumu juga butuh bunga cinta dari hatimu.” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar