KUPU-KUPUKU AKU BUTUH KAMU
(Benny Can)
Matahari
yang berarak dan pagi pun tersapa siang untuk menggantinya, begitu pula embun
akan pergi karena setia pada pagi. Setia, begitulah seharusnya dalam menjalani
cinta karena cinta saling membutuhkan. Seperti kupu-kupu yang akan merasa butuh
pada bunga untuk menyentuhnya.
Cinta
adalah ungkapan rasa permintaan hati hingga semua akan menjadi semu bila tanpa
terjalani dengan setia. Seperti aku yang merasakan cinta dari kupu-kupuku yang
selalu menyentuh bunga hatiku. Seperti embun tanpa syarat untuk membuat
dedaunan cinta dan akulah yang haya butuh cinta dan tanpa syarat untuk setia.
Semua itu terjalani karena kita berkeyakinan, ada bahagia yang menantinya.
Bahagia
itu yang terasakan bila bersama, bersanding, dan menyentuhnya hingga semua
bagaikan penonton dan hanya kita pemilik dunia ini. “Ranum, aku akan selalu
menyebutmu keindahan bila inginku mengabdi pada nyata dan perpegang teguh pada
sumpah untuk tak putus asa karena kamu telah mengajarkan aku merasakan cinta
hingga bernafaspun sepertinya nafasmu yang kau titipkan. Ranum, adalahmu
keindahan dari kebahagian cinta untukku tertakdir dan takkan berhenti sebelum
tuhan mengatakan ini berakhir” rayuku.
“Dika,
apapun yang terjadi denganku, adalahmu pelindungnya dan bila itu rapu adalahmu
disampingku. Cinta ini mengakar dan tak mungkin aku merobohkannya sebelum
kehendak Tuhan, karena sedih dan senang ingin terlalui bersamamu. Dika, akulah
kupu-kupumu yang ingin selalu menyentuh bunga di hatimu karena manisnya bahagia
yang selalu aku rasakan,” katanya sambil menyandarkan kepalahnya di bahuku.
Debur
ombak yang berkejaran terlihat menjadikan pelangkap bahagia yang terasakan di
pantai berpasir putih ini. Duduk, begitulah kita merasakan menikmati alam
ciptaan Tuhan seraya kita tercipta menjadi satu seperti pasir dan ombak. Aku
merangkul Ranum karena angin tak ingin mendekap dingin, dan sesekali membelai
rambut indahnya karena pasir yang terhempas tak ingin mengotorinya.
“Dika, teryata benar apa yang dikatakan orang.
Kamu meninggalkanku hanya untuk wanita ini” kata Putri yang tanpa terasa sudah
berdiri di depan kita sambil menunjuk Ranum.
“Putri,
mengapa kamu mengganguku, bukannya kamu sudah puas menyakiti dengan menduakan
cintaku. Sekarang, lebih baik tinggalkan kita karena kamu dan aku sudah tidak
ada ikantan” kataku.
“Aku akui
salahku dan sekarang aku sadar. Dika sebenarnya aku masih mengharapkanmu,”
katanya.
“Itu
sudah berlalu dan menjadi masa lalu. Sekarang aku merasa bahagia dengan Ranum,” kataku
sambil merangkul Ranum.
“Dika
asal kamu tahu saja, cewekmu itu adalah seorang pelacur.”
Sepontan
saja aku menjadi marah, aku berdiri dan ingin menamparnya tapi urung karena
Ranum memegang tanganku. “Pergi dan cepat tinggalkan kita, sebelum aku berbuat
kasar,” kataku sambil mengusirnya.
“Aku
pergi, aku pergi. Semoga kamu bahagia dengan seorang pelacur” katanya dan
setelah itu dia pergi. “Hei pelacur. Aku ucapkan selamat karena kamu telah
berhasil mengguna-guna Dika, tapi aku yakin cintamu itu takkan awet dan Dika
akan mencari aku,” tambahnya saat tak berapa jauh dia meninggalkan kita.
Aku
melihat Ranum tertunduk seolah menyembunyikan rasa sedih dan tangisnya. “Ranum,
sudahlah jangan kau tetaskan air matamu,” rayuku sambil mengusap air matanya.
“Lihatlah aku, tatap mataku. Semua ucapan adalah ucapku yang harus kamu
percayai.”
“Benar
apa yang dikatakan putri, takdirku adalah untuk dihina dan aku harus menjalani
dengan tuduhan atas orang yang telah menganggap rendah diriku,” ucapnya.
“Takdir?
Terkadang takdir adalah pilihan dan pilihan terakhir adalah takdir, tapi
bukannya takdir bisa lebih memihak kepada kita jika kita berusaha merubahnya. Ranum,
Tuhan itu maha pengampun dan akan mengampuni setiap ummat-Nya bila ia berusaha
untuk lebih baik dan meninggalkan kesalahnnya. Aku akan tetap ada untukmu
karena aku tak ingin orang menghinamu karena masalalumu, aku punya rasa kasihan
dan untuk itu adalah cinta yang aku tunjukkan untuk melindungimu.”
“Dika,
aku mengerti semua itu. Aku yakin cintamu sekarang hanyalah karena kasihan dan
aku tidak mau dikasihani. Dika, cobalah berfikir apa jadinya bila aku menjadi
masa depanmu. Aku tak pantas buat seorang cowok terpelajar sepertimu”
“Dengarkan
aku, aku mencintaimu karena aku butuh. Aku butuh kamu untuk masa depanku karena mimpi-mimpiku
selalu menyebut namamu. Ranum, aku tak ingin menyebut malam tanpamu mengatakannya
dan aku tak ingin menyebut pagi tanpa kamu yang membangunkannya.”
“Aku
tak mungkin menyebutkan malam untukmu. Aku sekarang sadar siapa diriku ini”
katanya dan setelah itu dia hanya menundukkan kepla menyembunyikan tangisnya. “Dika,
aku hanya seorang pelacur.”
“Ranum, ikut aku,” aku menarik tangannya dan
membawahya pada keramain orang yang menikmati keindahan pantai. “Hai semuanya,
maaf sebelumnya. Aku hanya ingin kalian menjadi saksi” teriakku dan sesaat itu bayak
orang yang beralih perhatian pada kita.
“Salahkah
aku bila mencintai dengan ketulusan dan kesetian. Aku butuh cintamu dan tanpa
syarat untuk memilikimu. Ranum, apakah kamu bersedia menjadi pendampingku
dengan ikatan halal dan bersedia menjadi istriku?” kataku sambil berlutut dan
memengangi tangannya dan sontan saja orang-orang berkata “Terima, terima,
terima.”
Sejenak
setelah itu keadaan menjadi diam. Ranum menarik tanganku dan memintaku untuk
berdiri dan setelah itu dia memelukku. “Aku menerima, karena aku juga butuh
kamu.” Tepuk tangan pun terdengar dan tetapi aku tanpa hirau terus saja
memeluknya karena bahagia yang tak terkira.
“Kupu-kupuku aku butuh kamu,” kataku setelah melepaskan
pelukan dan menatap wajahnya. “Kupu-kupumu juga butuh bunga cinta dari hatimu.”